Gara-gara Tamu Asing Sering ke Kantor Anies daripada ke Istana Presiden, Ibukota pun Dipindah



Laman media sosial Anies Baswedan sering memposting foto-foto tamu asing yang sedang berkunjung. Terlihat Gubernur DKI Jakarta tersebut dengan luwes bercengkrama.

Sangat berbeda dengan Presiden RI yang terlihat kaku jika berkomunikasi dengan tamu asing. Bahkan cenderung menghindari acara-acara resmi yang digelar di luar negeri.

Bahkan karena terlalu seringnya Anies menerima kunjungan dari negara luar, Jokowi disebut warganet ngambek dan ingin memindahkan Ibukota Jakarta.

"Mengapa tamu dari luar negeri nggak mau singgah ke istana presiden? Kok malah ke kantor Gubernur DKI Jakarta?," tanya seorang warganet dengan usil.

"Gara-gara itu ibukota Jakarta mau dipindah ke luar Jawa," sambung yang lain.




Kemampuan komunikasi Jokowi dengan kolega dari luar negeri memang seering disorot. Bahkan demi menaikkan kepercayaan publik, bahwasanya Jokowi bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar, salah satu media nasional sampai membuat berita bombastis.

Yaitu berita tentang ucapan selamat dari 21 kepala negara/pemerintahan karena Jokowi telah memenangkan Pilpres 2019.
Beritanya dimuat di laman detik.com .

Pada hari Kamis (18 /4) pukul 16:47 WIB detik.com memuat berita dengan judul : Sudah 21 Kepala Negara Ucap Selamat ke Jokowi, Erdogan Juga akan Telepon.

Dalam berita itu dikutip seakan Jokowi sudah mendapat ucapan selamat atas kemenangannya. Wartawan detik.com bahkan melaporkan mereka menyaksikan dan mendengar sendiri ketika Jokowi menerima telefon dari PM Singapura Lee Hsien Loong.

“Dari obrolan tersebut, terdengar pembahasan hasil hitung cepat lembaga survei. ”Yes, ninety nine percent yes PM Lee,” kata Jokowi soal akurasi hitung cepat lembaga survei,” tulis detik.com.

Untungnya detik.com masih mencoba “jujur,” dengan menautkan video ketika Jokowi menerima telefon dari Lee. Pembaca langsung bisa membandingkan antara isi berita dengan fakta sesungguhnya.

Sepanjang percakapan Jokowi hanya menyampaikan kata-kata yang pendek. Thank you PM Lee. Thank you PM Lee. Disambung dengan kata-kata “ ya..ya.”

Satu-satunya kalimat yang cukup panjang diucapkan Jokowi —setelah tampak berpikir sejenak— “I will decide tomorrow”. Tidak ada ucapan selamat kepada Jokowi. Yang ada ucapan selamat kepada bangsa Indonesia karena berhasil melaksanakan pemilu damai.

Padahal, adalah suatu hal yang biasa jika pemimpin negara mempergunakan penerjemah. Jangan hanya karena ingin terlihat hebat, malah terlihat makin dungu. Itulah yang selama ini terjadi.

Banyak yang malu mengakui kelemahan. Mereka malah menutupinya dengan kebohongan (lebih dikenal dengan pencitraan). Dan seperti biasa, satu kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan lainnya.

loading...


Posting Komentar

0 Komentar