Terbukti Lebih Hebat dari Jokowi, Gubernur Sumut Semakin Diserang Kaum Kolam



Edi Rahmayadi, Gubernur Sumatera Utara semakin dihujani hinaan dan makian dari pendukung Jokowi. Apalagi Edi menjadi gubernur setelah mengalahkan Djarot. Dendam kaum kolam semakin membara.

Sikap tegas Edi Rahmayadi membuat jantung lemah kaum kolam serasa copot. Mereka terbiasa dipimpin oleh sosok yang suka cengengesan dan hobby bagi-bagi sepeda.

Setelah sebelumnya pernah viral Edi membentak Aiman Kompas TV, kini mantan ketua umum PSSI kembali menjadi sorotan.

Pasalnya, ia sangat berani menolak skema One Belt One Road (OBOR) yang digagas China dan ditandatangani langsung oleh Deputi Infrastruktur Kemenko Kemaritiman, Ridwan Djamaluddin dan Wakil Menteri Bappenas China, Ning Jizhe di sela-sela Belt and Road Forum di Beijing, China, Sabtu (27/4).

"Kita kaji dulu. Selama itu menjadikan positif memajukan rakyat Sumut dan benar adanya kita terima, tapi harus jelas. Sumut siap membuka tangan siapapun welcome tapi harus pasti. Rakyat harus makmur," ungkap Edy.


"Jika tanpa didahului kajian yang jelas, Pelabuhan Kuala Tanjung yang masuk dalam skema OBOR tidak boleh masuk," tegasnya.


Kemudian Edi menunjukkan sikap kesatria saat dia menyatakan akan mundur jika tidak dikehendaki masyarakatnya. Hal itu dinilai bertolak belakang dengan kebanyakan pemimpin yang cenderung haus akan kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya.

"Itulah bedanya sikap Pak Edi yang dengan ksatria mengatakan siap mengundurkan diri jika rakyat sudah tidak menghendakinya. Dan inilah sikap patriot seorang pemimpin itu," kata Ketua GNPF Ulama Kota Binjai, Ustaz Sani Abdul Fatah seperti diberitakan RMOL Sumut, Sabtu (4/5).

Maka dari itu, Ustaz Sani menekankan bahwa sikap kesatria semacam itu mestinya diapresiasi oleh semua pihak. "Mestinya kan positif," tandasnya.

Lebih lanjut Ustaz Sani mengaku sangat yakin kalau Edi tidak akan sampai mengundurkan diri. Sebab, diyakininya mayoritas masyarakat Sumut tidak menghendaki itu terjadi. Buktinya, dia merupakan gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan langsung.

"Dia Gubernur pilihan rakyat. Tak mungkin tak ada warga yang tak sudi dipimpinnya," tegasnya.

Nah, apa yang diutarakan oleh Edi dijelaskannya hanyalah semacam refleksi pemeritahan demi menyerap aspirasi rakyat yang dipimpinnya.

"Saya melihat itu semacam refleksi saja. Pak Edi yang seorang militer memiliki sifat ksatria dan bertanggung jawab serta tegas," kata aktivis PA 212 ini.

Lebih lanjut dikatakan Sani, pernyataan Gubsu itu berbanding balik dengan fenomena kecurangan hasil Pilpres 2019. Sebab disana banyak dugaan kecurangan untuk mempertahankan posisi petahana, sementara sebagian besar rakyat sudah tak menghendaki kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Padahal seharusnya menurut dia, pemimpin dicintai, didukung oleh rakyatnya agar negeri itu menjadi damai, tenteram, adil dan makmur.

"Jika saja ada pemimpin yang tidak dikehendaki rakyatnya tapi tetap memaksakan dirinya dengan berbagai macam cara maka sebaliknya akan terjadi kekacauan dan konflik di negeri itu," pungkasnya.



loading...


Posting Komentar

0 Komentar