Cari Modal Besar, Pemerintah Tiru Konsep Kerja Tuyul



Demi mencari modal jangka pendek shortterm capital inflow dari dalam negeri, pemerintah bakal meniru konsep tuyul. Dengan mengendus uang masyarakat yang disimpan di lemari.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan akan menyeser masyarakat yang masih menyimpan uangnya di lemari untuk segera dipindahkan ke lembaga keuangan.

Sebab, peranan modal asing tak menunjukkan kemajuan lantaran berada di angka 40 persen di pasar surat berharga pemerintah.

"Banyak orang yang masih simpan dalam lemari sedikit-sedikit, lama-lama dia beli tanah. Nah itu dia mekanismenya, sehingga banyak dana tidak masuk (tercatat)," katanya dalam Seminar Nasional Transformasi Ekonomi untuk Indonesia Maju di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8).

Dia menuturkan, dana dalam negeri dibutuhkan untuk modal jangka pendek yakni agar dana asing tidak cepat habis. Pun sebenarnya jika masyarakat menyimpan uangnya di bank atau menginvestasikan di surat berharga pemerintah akan ada imbal hasil yang didapatkan.

"Tidak tercatat di sektor formal karena masih rendahnya tingkat inklusi keuangan. Maka masih banyak orang uang menyimpan uangnya di dalam lemari," tutur Darmin.

Oleh karena itu, menurut dia, saat ini pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menjalankan program untuk meningkatkan inklusi keuangan. Dalam program itu, masyarakat akan dikenalkan dengan layanan perbankan.

"Coba perhatikan, kredit kita sekarang pertumbuhannya berapa, kira-kira 11-12 persen. DPK (Dana Pihak Ketiga) kira-kira 7 persen. Berarti ada gap. Nah kita harus handle itu. Keuangan inklusif benar-benar harus kita dorong. Saya, Kemenko Ekonomi dengan OJK sedang siapkan program besar-besaran untuk dorong keuangan inklusif ini," kata Darmin.



loading...


Posting Komentar

0 Komentar